11 Oktober 2014

kata"nya"

Katanya.
Entah siapa yang mengambil peran "nya" dalam akhiran tersebut. Semacam kata-kata bijak, kata dari orang-orang tua pendahulu kita. Terkadang sulit dipahami, kalau kita gak mengalami sendiri.

Katanya, gak ada yang abadi di dunia ini. Ya, setiap waktu berharga. Momen yang tercipta itu unik. Mulai dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, tempat sebuah peristiwa terjadi, hingga suasana yang membumbuinya.

Katanya, kita gak akan menghargai sesuatu sampai kita kehilangan sesuatu tersebut. Atau bahasa mudahnya, kita gak menyadari kita memiliki hal tersebut, hingga kita kehilangannya. Mungkin kita yang kurang peka, atau tidak bersyukur pernah memilikinya.

Katanya, ya katanya.

01 Oktober 2014

Simpati, Empati, dan Sepatu

Seringkali kita mendengar rasa simpati yang disampaikan seseorang kepada orang lain yang menunjukkan sebuah tenggang rasa. Ada juga yang menyatakan empati nya. Kalau saya tidak salah, mereka berdua itu berbeda. Simpati adalah sebuah pernyataan bahwa saya turut merasakan yang anda rasakan pada saat ini. Sedangkan empati adalah sebuah pernyataan bahwa saya mengerti betul dan berusaha memposisikan diri saya seperti keadaan anda sekarang.

Tapi, saya cuma mau bilang bahwa tidak ada simpati terlebih lagi sebuah empati yang membuat anda mengerti betul perasaan, situasi, dan kondisi seseorang pada saat tertentu. Alasan nya cuma satu, karena kita bukan mereka

Kita tidak menggunakan sepatu yang sama dengan mereka.
Kita tidak menjalani jalan kehidupan mereka.
Kita tidak melihat dari sudut pandang mata mereka.
Kita tidak berpikir dengan pola pikir mereka.
Kita tidak merasakan dengan hati mereka.

Ketika kita bilang kita mengetahui perasaan mereka, itu bohong. Tidak ada yang bisa mengerti dengan penuh. Cuma Tuhan yang bisa. 

27 Agustus 2014

Membaca versus Melihat

Beberapa orang mengatakan bahwa setiap momen berharga seharusnya diabadikan melalui sebuah foto.
Tetapi kalo buat gw, sebuah foto itu mungkin bisa menangkap hanya sepotong kejadian. Meskipun 3 dimensi tertangkap melalui selembar foto, tetapi tetap ada satu dimensi yang hilang. Yaitu dimensi waktu. Kita gak akan pernah bisa merasakan kejadian tersebut apabila kita tidak ada di sana pada saat tersebut. Hanya indra penglihatan kita yang mampu mengintepretasika momen yang tertangkap dalam foto tersebut.

Berbeda halnya apabila ada ekposisi yang membantu kita mengintepretasikan sebuah kejadian. Ya memang sama indera penglihatan kita juga yang bekerja. Tetapi bedanya apabila kita membaca sebuah eksposisi maupun narasi, makan indra imajinasi kita juga turut bekerja. Indra-indra tersebut membangun kembali keadaan sekitar seperti yang dideskripsikan dalam sebuah tulisan. Dimensi waktu mungkin tidak dapat terulang kembali juga, tetapi setidaknya dapat dikonstruksi melalui penjelasan dalam tulisan tersebut.

Sama seperti halnya kita membaca sebuah buku (read) dengan menonton sebuah film (see).

01 Agustus 2014

Sahabat yang Menangis dan Mendoakan

Post kali ini gw dedikasikan buat sahabat-sahabat gw yang sudah teruji melalui waktu dan konflik yang ada.
Gw sangat terharu punya sahabat-sahabat yang luar biasa.
Mereka bisa:

SETIA mendengarkan semua cerita sampah gw
ADA kapanpun gw membutuhkan mereka
DEWASA waktu gw gak bisa melihat dengan baik

SINIS ketika gw melakukan hal bodoh
OPTIMIS saat gw mengeluarkan pikiran negatif
SKEPTIS buat hal yang di luar kebiasaan

KEPO untuk semua detail tentang cerita gw
RASIO karena mereka bukan sebagai subjek pelaku

dan yang bikin gw terharu luar biasa adalah.
mereka bisa MENANGIS buat gw
di saat yang sama,
mereka bisa MENDOAKAN yang terbaik buat gw.


28 Juli 2014

The Fault in Our Stars

Hello!

Kali ini gw mau membahas film yang baru kemarin gw nonton. Nontonnya bersama 4 sahabat gw. Temen gw semuanya pada nangis nonton film ini, bahkan sampai ada yang berkali-kali nangisnya. Sedangkan gw merasa film ini sedih sih, tapi tetep aja ini hanya sebuah fiksi. Tapi ada beberapa pelajaran yang bagus yang gw dapatkan dari film ini.



1. Membakar Rokok
Terdapat scene pemeran utama cowo sedang menggoda pemeran utama cewenya. Ketika respons dari si cewe sudah positif, tiba-tiba si cowo mengeluarkan rokok dari kantong, dan menyelipkannya ke dalam mulutnya. Si cewe langsung emosi dan marah, sambil bilang, "Seriously? You ruin everything!" 

Si cowo ini menjelaskan bahwa ini sebuah metafor. Gw agak gak paham sih maksud metafornya di bagian mana. Tapi yang gw tangkap adalah ini masalah pengendalian diri.

Rokok itu tidak punya kekuatan membunuh selama kita tidak membakarnya. Jadi si cowo ini cuma sekedar "gaya-gaya an" nyelipin rokok di mulutnya. Padahal dia sama sekali gak membakarnya.

2. Status
Inti dari film ini gw rasa di sini. Pemeran utamanya memiliki kanker, dia suka sama sebuah buku, dan sangat berambisi ketemu penulisnya. Karena buku favoritnya itu tamat di tengah kalimat.

Dia menemui penulisnya sampe musti ke Amsterdam, sedangkan dia dari Amerika. Tapi begitu ketemu, dia sangat amat kecewa karena penulisnya itu ternyata mabok-mabokan, dan malah memaki-maki dia.

Hal yang sangat dia pengen tau adalah kehidupan setelah tokoh utama dalam buku itu meninggal. Kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Status setiap personel dalam keluarga itu tetap sama, tetap menjadi seorang ayah dan seorang ibu, serta seorang anak, ataupun seorang kakak atau adik. Tidak ada yang berubah statusnya hanya karena orang itu meninggal.

3. Oblivion = Dilupakan
Ini yang paling bermakna sih buat gw. Pemeran utama cowonya memiliki satu ketakutan terbesar yaitu dilupakan itu. Dia pengen hidupnya itu bisa membuat dia dikenang sama seluruh dunia ketika dia meninggal. Dia selalu merasa dia harus berbuat sesuatu supaya dia berarti di dalam dunia.

Sampai di suatu titik pacarnya ini marah. Lu gak bakalan bisa bikin semua orang di duni ini mengingat lu. Tapi bukannya udah cukup lu punya satu orang yang gak bakal melupakan lu dari dunianya ketika lu meninggal nanti. 

Sama seperti kata mutiara yang pernah gw baca
To the WORLD you maybe one PERSON,
but
To SOMEONE you maybe their WORLD