04 Maret 2017

Words are POWERFUL

Bahasa kasih menurut Gary Chapman ada lima macam. 
  1.  Sentuhan fisik
  2.  Kata-kata
  3.  Waktu bersama
  4.  Hadiah
  5.  Pelayanan
Mungkin bahasa kasih yang gw miliki hampir mutlak adalah melalui kata-kata. Baik itu lisan, tapi terlebih berkesan apabila disampaikan melalui tulisan. Karena dengan tulisan, ada bukti nyata "hitam di atas putih" yang bisa dibaca ulang dan membawa kembali ingatan kita pada momen tersebut.

Buat gw, kata-kata itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Gw bisa termotivasi dengan kata-kata yang menyemangati, bisa semangat lagi melalui kata-kata yang mengapresiasi, juga bisa merasa dicintai ketika sesorang menyatakannya melalui kata-kata.

Cuma, kata-kata gak bermakna kalau gak ada bukti nyata. Sama kaya iman yang mati tanpa perbuatan.

Kata-kata itu menurut gw sama dengan janji. Itu juga yang menjadi alasan gw sedikit bicara. Karena buat gw, perkataan yang gw keluarkan itu gak sembarangan. Jadi gw butuh waktu untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Makanya gw juga lebih memilih untuk menulis, sehingga kata yang tercetak pastinya melewati double filter melalui otak dan mata.

Karena kekuatan dari kata-kata itu sangatlah besar, maka besar juga rasa sakitnya dari kata-kata yang tidak ditepati dan tidak sesuai dengan perbuatannya.

Gw dapet sedikit pelajaran tentang iman. Iman itu bukan menjalani dengan cara:
"Ya udah, gw jalanin aja, masa Tuhan gak mau bantu gw sih dalam hal ini?"
Iman itu bukan kaya gitu.

Iman itu adalah sebuah tindakan yang bukan cuma punya kepercayaan bahwa Tuhan menyertai lu, tapi juga tindakan yang penuh perhitungan. Bukan sembarang percaya, tapi lu pertanyakan apa bener ini jalan yang harusnya lu imani dan yakini benar.

06 Desember 2016

Minta Izin VS Minta Maaf

Di rapat terahir untuk acara Camp Kebersamaa Pengurus Komisi Remaja, ada topik yang cukup menarik. 
Sebenarnya cuma kalimat biasa yang dilontarkan oleh Riko.

"Lebih gampang minta maaf daripada minta izin."

Kita kemarin itu lagi membahas masalah budgeting untuk konsumsi yang mau kita salahgunakan atas nama kebaikan dengan berpura-pura tidak tahu, lalu nanti ketika masa pertanggungjawaban tiba, kita tinggal minta maaf. Daripada kita harus bersusah meminta izin di awal untuk mewujudkan konsumsi yang kita udah tau peraturan bakunya, pasti akan dijawab tidak. Maka tercetuslah kalimat tersebut oleh Riko.

Menarik.

Membuat gw berpikir lanjutannya, yaitu

"Lebih sulit memaafkan daripada mengizinkan"

Hal ini buat gw sih. Kalo udah salah, buat gw lebih sulit memaafkan sebuah kesalahan. Karena gw anaknya pendendam, dan selalu inget-inget terus kesalahan orang. Haha. 
Buat gw lebih gampang mengizinkan. Dengan mengizinkan, gw bisa melakukan tindakan preventif. Misalnya aja izin untuk telat, buat gw lebih baik lu ngomong di awal daripada udah kejadian baru lu minta maaf. Atau kalau misalnya lu telat, kan bisa gw tinggal, atau gw memutuskan untuk menunggu. Tapi setidaknya ada pemberitahuan lebih dahulu. Daripada tanpa kabar, datang telat, lalu tinggal minta maaf.

Ya, itulah secuplik kalimat Riko yang gw buat jadi quotes of the day pada hari itu, cuma baru sempet nulis sekarang.

P.S: konsumsi nya akhirnya kita gak jadi pakai cara curang kok. Hehe

Mempertahankan

Tulisan yang sempat gw sebut di entri sebelumnya, yaitu soal mempertahankan.

Ketika bertahan kita mengeluarkan tenaga lebih. Karena memiliki ekspektasi lebih dari sebelumnya, ambisi yang lebih besar dari sebelumnya. Menjadi jumawa karena telah mencapai titik yang kita anggap sudah puas, tetapi lupa untuk mempertahankannya pun butuh usaha lagi. Sehingga tidak jarang kita gagal mempertahankan apa yang telah kita miliki.

Gw ingat pernah membaca sebuah ilustrasi. Seorang pembicara membawa gelas yang berisi air setengah. Para penonton merasa sudah tau apa yang akan dibicarakan mengenai gelas ini. Pasti lagi-lagi mengenai cara pandang manusia antara "setengah terisi" atau "setengah kosong", yang menandakan cara pandang manusia yang optimis atau pesimis.

Tetapi ternyata pembicara itu membicarakan hal yang berbeda. Ia bertanya, "Menurut saudara, berapa lama seorang manusia dapat memegang gelas yang berisi air setengah ini? Lima menit? Lima puluh menit? Lima Jam?" Penonton pun berusaha berpikir. 

Isi dari gelas yang cuma setengah itu tidak akan menjadi beban bagi yang memegangnya selama lima menit. Tapi akan mulai terasa berat apabila digenggam selama lima puluh menit. Terlebih lagi selama lima jam memegang gelas yang cuma berisi setengah menjadi penderitaan.

Pembicara itu mengibaratkan gelas sebagai stress yang seharusnya tidak lama-lama kita pendam. Tapi buat gw yang memorable itu adalah bagian bertahan. Berapa lama kita mampu bertahan pada posisi yang sama seperti memegang gelas yang adalah masalah itu?

Itulah makanya menurut gw posisi bertahan lebih sulit, daripada mencapai sesuatu.

16 November 2016

Gelindingan

Kehidupan ibarat roda yang melingkar.
Terkadang kita berada di titik teratas, tapi semuanya tidak bertahan lama.
Tunggu saja roda itu berputar sehingga kita berada di titik terbawah.

Oke, ini semua klise dan gw gak pernah bermaksud untuk bikin blog motivasi.
Gw cuma mau membagikan hal-hal yang sempat melintas di dalam pikiran gw.
Pernah gak kita berpikir bahwa kehidupan bukan hanya berputar seperti roda.
Bukan cuma menunggu kita berada di titik teratas atau terjatuh hingga di titik terbawah
Melainkan :

menghancurkan roda tersebut

Pemikiran ini terinspirasi dari film seri favorit gw Game of Thrones.
Di situ ada tokoh seorang ratu yang memulai mengumpulkan kekuatannya benar-benar dari gak punya suatu apapun.
Dia punya strategi dan intuisi yang tepat, dan tentunya disertai hati yang tulus.
Ketika dia berusaha mengambil kembali kursi kekuasaan yang dahulu memang dimiliki oleh bangsanya,
salah seorang penasehatnya mengatakan, "Kekuasaan itu gak akan ada habisnya, semuanya akan berputar seperti roda"
Tetapi Si Ratu ini berkata bahwa dia gak akan membiarkan roda itu menentukan posisinya sekarang ada di bawah atau di atas
Melainkan dia akan menghancurkan roda tersebut.

Konsep ini yang pengen gw bagikan, Jangan pernah orang mendefinisikan kita sedang berada di titik mana dalam roda kehidupan ini.
Karena kita bukan sebuah jiwa yang dibungkus fisik untuk menggelinding pada sebuah roda.
Kita punya kemampuan untuk berjalan lurus ataupun mendaki tanjakan curam.
Ketika menanjak itu, kita berada dalam posisi harus mengeluarkan energi lebih untuk mencapai puncak.
Itulah sebabnya untuk mencapai posisi di atas, pasti gak mudah, ada usaha lebih yang harus dikeluarkan.
Orang bilang yang sulit itu mempertahankan posisi kita sekarang daripada meraihnya. Iya, betul.

Fase yang beda lagi : Mempertahankan.

23 Desember 2014

Subjek Pelaku

Terinspirasi dari kata-kata sederhananya pemimpin liturgi pada Kebaktian Pemuda hari Minggu, 21 Desember 2014 kemarin, yaitu Syahveina, yang lebih akrab dipanggil Pepen. Tema minggu itu adalah Christmas Gift . Rangkaian tema selama minggu advent tahun ini adalah mencari makna natal yang sesungguhnya. Bahwa natal bukan sekedar masalah menghias pohon natal, meriahnya nyanyian natal, ataupun hadiah natal, tapi ya cari tau sendiri aja apa sebenernya makna natal. Haha.

Jadi, di akhir ibadah kemaren, Pepen cerita sedikit pengalamannya ketika belajar di Taiwan dulu. Di sana kebanyakan pemeluk agama non kristen. Tetapi anehnya mereka turut merayakan kemeriahan natal. Malah mereka yang ngajakin tukeran kado natal. Mereka yang bukan Kristen aja bisa merayakan seperti itu. Lalu apa bedanya kita dengan mereka?

Pepen mengibaratkan momen natal dengan logika yang sederhana. Natal itu kan perayaan ulangtahun-Nya Tuhan Yesus. Sama aja seperti kita merayakan sebuah perayaan ulangtahun. Masa kita mengadakan pesta ulangtahun, tetapi yang berulangtahun tidak hadir di dalam perayaan tersebut. Aneh bukan?

Ketika kita sebagai orang Kristen yang merayakan Natal - ulangtahun-Nya Yesus - seharusnya kita membuat dia menjadi Subjek Pelaku yang sedang merayakan hari kelahiran-Nya.

Selamat menghadirkan Yesus dalam perayaan ulangtahun-Nya!

Mie Lebar, Maria, dan Denis

Mungkin sudah sekitar delapan tahun lebih gw selalu makan mie ayam di depan gereja. Mas yang jualannya pun juga sudah hafal pesanan gw, yaitu mie polos tanpa sayur tanpa ayam. Belakangan ini berevolusi mie kecilnya menjadi mie lebar, tapi tetap polos, tanpa sayur dan ayam.

Yang super mengharukan adalah Denis dan Maria, kedua sahabat gw yang kebetulan mereka berpacaran sekarang. Mereka mengenal betul gw dan hal-hal yang gw anti mengenai makanan gw. Haha.
Udah dua kali,ketika kita pengen sama-sama makan, eh mie lebar nya tinggal sisa buat satu porsi aja. Terus mereka dengan super mengharukannya. selalu merelakan mie lebar itu buat gw. Hueeeeeeeee.
Mana ada pasangan yang seunyu mereka?

Udah, cuma mau bilang gitu aja kok. Terharu sama hubungan mie lebar, Maria, dan Denis dan gw.

16 November 2014

Gagal

Beberapa minggu yang lalu, gw sempet nonton film judulnya "Meet The Robinsons". Sebenarnya film yang salah dicopy untuk ditonton di notepad gw. Gw kira tadinya ini adalah film drama komedi tentang keluarga gitu. Taunya sebuah film kartun. Jengjeng kan.

Gw gak begitu suka film kartun. Kalo kata mama, itu film boongan, karena hanya dibuat-buat. Makanya bete pas tau gw salah film. Tapi karena belakangan ini butuh instrumen untuk membunuh malam, tepatnya sih membunuh pikiran yang datang sesaat sebelum tidur, maka gw putuskan untuk menonton film kartun tersebut.

Awalnya sih ya biasa aja lah. Film seorang anak lelaki yatim piatu, tapi super jenius. Sampe suatu saat dia dibawa ke dunia masa depan, dan ketemu dengan sebuah keluarga yang super aneh. Tibalah waktu dia makan bersama keluarga tersebut, dan keluar sebuah alat pengatur keluarnya selai kacang dan berry. Alat selai itu rusak, dan karena si anak ini super jenius, dia diminta untuk mencoba membenarkannya.

Si anak ini udah berusaha semampunya untuk memperbaik alat selai, tapi ketika dicoba, ternyata malah rusaknya lebih parah. Kerusakannya menimbulkan kekacauan, selainya muncrat ke seluruh keluarga yang sedang makan malam.

Tetapi anehnya, kegagalan anak tersebut malah disambut dengan riang gembira oleh seluruh anggota keluarga. Mereka malahan menari-nari mearayakan kegagalan tersebut. Ternyata prinsip mereka, dari sebuah kegagalan anda akan belajar sesuatu. Belajar cara untuk lebih baik lagi dan lagi.

Kegagalan yang ada bukan untuk disesali dan diratapi. Mungkin butuh waktu untuk membuat jalan pikiran kita mengubah sebuah kegagalan menjadi pembelajarn. 
Yang penting kita bisa bangkit (n+1) dari jumlah kegagalan yang kita alami. 

21 Oktober 2014

Harapan dan Iman

Sedikit membahas euforia pelantikan Presiden Republik Indonesia ketujuh dari sisi lain.
Dari sisi tukang saya. Seorang Tukang Kayu.

Hari Minggu malam, saya mengirimkan pesan singkat supaya ia bersiap besok pagi untuk pergi bersama saya mengukur ke lokasi. Dengan lugu nya, dia bales, "Okkk. Habis ngukur, ke monas ya nonton konser salam 3 jari. hehehehe" Saya sampe gak tahu harus berkata apa. Cukup menghibur pastinya.

Sudah banyak liputan baik lisan, tulisan, foto, video, dan media lainnya yang menyajikan pelantikan presiden yang beda dari yang lainnya. Kali ini, Beliau adalah rakyat biasa yang juga pernah hidup di "bawah". Makanya Beliau tampak begitu menyatu dengan rakyat.

Tapi kecemasan sempat ada dalam benak Beliau. Ketika Rakyat begitu berlebihan menaruh ekspektasi di pundaknya. Seakan semua harapan menggelayuti bahu pemimpin yang kurus tersebut. Beliau hanya berkomentar bahwa semua yang berlebihan itu tidak baik. Bukan berarti ia tidak akan memberikan kemampuan maksimalnya, Tetapi ia juga seorang rakyat, yang dari kalangan kita juga.

Sama seperti kita yang seringkali menaruh harapan, memiliki rencana ini dan itu. Dan akan sangat mudah kecewa ketika harapan kita terlalu tinggi. Karena kita semua masihlah manusia, karena masih sangat banyak faktor yang di luar kendali kita. Layaknya perkataan pepatah "Manusia berencana, tetapi Tuhan yang menentukan."

Ketika kita meletakkan harapan pada Tuhan, bukan tidak mungkin kita tidak kecewa. Tetapi yang dibutuhkan adalah iman. Iman untuk percaya akan apa yang tidak bisa dilihat. Percaya bahwa ada rancangan yang indah yang telah disiapkan bagi kita.

Terlihat mudah menuliskan dan mengucapkannya. Bagaimana menjalaninya?

11 Oktober 2014

kata"nya"

Katanya.
Entah siapa yang mengambil peran "nya" dalam akhiran tersebut. Semacam kata-kata bijak, kata dari orang-orang tua pendahulu kita. Terkadang sulit dipahami, kalau kita gak mengalami sendiri.

Katanya, gak ada yang abadi di dunia ini. Ya, setiap waktu berharga. Momen yang tercipta itu unik. Mulai dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, tempat sebuah peristiwa terjadi, hingga suasana yang membumbuinya.

Katanya, kita gak akan menghargai sesuatu sampai kita kehilangan sesuatu tersebut. Atau bahasa mudahnya, kita gak menyadari kita memiliki hal tersebut, hingga kita kehilangannya. Mungkin kita yang kurang peka, atau tidak bersyukur pernah memilikinya.

Katanya, ya katanya.

01 Oktober 2014

Simpati, Empati, dan Sepatu

Seringkali kita mendengar rasa simpati yang disampaikan seseorang kepada orang lain yang menunjukkan sebuah tenggang rasa. Ada juga yang menyatakan empati nya. Kalau saya tidak salah, mereka berdua itu berbeda. Simpati adalah sebuah pernyataan bahwa saya turut merasakan yang anda rasakan pada saat ini. Sedangkan empati adalah sebuah pernyataan bahwa saya mengerti betul dan berusaha memposisikan diri saya seperti keadaan anda sekarang.

Tapi, saya cuma mau bilang bahwa tidak ada simpati terlebih lagi sebuah empati yang membuat anda mengerti betul perasaan, situasi, dan kondisi seseorang pada saat tertentu. Alasan nya cuma satu, karena kita bukan mereka

Kita tidak menggunakan sepatu yang sama dengan mereka.
Kita tidak menjalani jalan kehidupan mereka.
Kita tidak melihat dari sudut pandang mata mereka.
Kita tidak berpikir dengan pola pikir mereka.
Kita tidak merasakan dengan hati mereka.

Ketika kita bilang kita mengetahui perasaan mereka, itu bohong. Tidak ada yang bisa mengerti dengan penuh. Cuma Tuhan yang bisa. 

27 Agustus 2014

Membaca versus Melihat

Beberapa orang mengatakan bahwa setiap momen berharga seharusnya diabadikan melalui sebuah foto.
Tetapi kalo buat gw, sebuah foto itu mungkin bisa menangkap hanya sepotong kejadian. Meskipun 3 dimensi tertangkap melalui selembar foto, tetapi tetap ada satu dimensi yang hilang. Yaitu dimensi waktu. Kita gak akan pernah bisa merasakan kejadian tersebut apabila kita tidak ada di sana pada saat tersebut. Hanya indra penglihatan kita yang mampu mengintepretasika momen yang tertangkap dalam foto tersebut.

Berbeda halnya apabila ada ekposisi yang membantu kita mengintepretasikan sebuah kejadian. Ya memang sama indera penglihatan kita juga yang bekerja. Tetapi bedanya apabila kita membaca sebuah eksposisi maupun narasi, makan indra imajinasi kita juga turut bekerja. Indra-indra tersebut membangun kembali keadaan sekitar seperti yang dideskripsikan dalam sebuah tulisan. Dimensi waktu mungkin tidak dapat terulang kembali juga, tetapi setidaknya dapat dikonstruksi melalui penjelasan dalam tulisan tersebut.

Sama seperti halnya kita membaca sebuah buku (read) dengan menonton sebuah film (see).

01 Agustus 2014

Sahabat yang Menangis dan Mendoakan

Post kali ini gw dedikasikan buat sahabat-sahabat gw yang sudah teruji melalui waktu dan konflik yang ada.
Gw sangat terharu punya sahabat-sahabat yang luar biasa.
Mereka bisa:

SETIA mendengarkan semua cerita sampah gw
ADA kapanpun gw membutuhkan mereka
DEWASA waktu gw gak bisa melihat dengan baik

SINIS ketika gw melakukan hal bodoh
OPTIMIS saat gw mengeluarkan pikiran negatif
SKEPTIS buat hal yang di luar kebiasaan

KEPO untuk semua detail tentang cerita gw
RASIO karena mereka bukan sebagai subjek pelaku

dan yang bikin gw terharu luar biasa adalah.
mereka bisa MENANGIS buat gw
di saat yang sama,
mereka bisa MENDOAKAN yang terbaik buat gw.


28 Juli 2014

The Fault in Our Stars

Hello!

Kali ini gw mau membahas film yang baru kemarin gw nonton. Nontonnya bersama 4 sahabat gw. Temen gw semuanya pada nangis nonton film ini, bahkan sampai ada yang berkali-kali nangisnya. Sedangkan gw merasa film ini sedih sih, tapi tetep aja ini hanya sebuah fiksi. Tapi ada beberapa pelajaran yang bagus yang gw dapatkan dari film ini.



1. Membakar Rokok
Terdapat scene pemeran utama cowo sedang menggoda pemeran utama cewenya. Ketika respons dari si cewe sudah positif, tiba-tiba si cowo mengeluarkan rokok dari kantong, dan menyelipkannya ke dalam mulutnya. Si cewe langsung emosi dan marah, sambil bilang, "Seriously? You ruin everything!" 

Si cowo ini menjelaskan bahwa ini sebuah metafor. Gw agak gak paham sih maksud metafornya di bagian mana. Tapi yang gw tangkap adalah ini masalah pengendalian diri.

Rokok itu tidak punya kekuatan membunuh selama kita tidak membakarnya. Jadi si cowo ini cuma sekedar "gaya-gaya an" nyelipin rokok di mulutnya. Padahal dia sama sekali gak membakarnya.

2. Status
Inti dari film ini gw rasa di sini. Pemeran utamanya memiliki kanker, dia suka sama sebuah buku, dan sangat berambisi ketemu penulisnya. Karena buku favoritnya itu tamat di tengah kalimat.

Dia menemui penulisnya sampe musti ke Amsterdam, sedangkan dia dari Amerika. Tapi begitu ketemu, dia sangat amat kecewa karena penulisnya itu ternyata mabok-mabokan, dan malah memaki-maki dia.

Hal yang sangat dia pengen tau adalah kehidupan setelah tokoh utama dalam buku itu meninggal. Kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Status setiap personel dalam keluarga itu tetap sama, tetap menjadi seorang ayah dan seorang ibu, serta seorang anak, ataupun seorang kakak atau adik. Tidak ada yang berubah statusnya hanya karena orang itu meninggal.

3. Oblivion = Dilupakan
Ini yang paling bermakna sih buat gw. Pemeran utama cowonya memiliki satu ketakutan terbesar yaitu dilupakan itu. Dia pengen hidupnya itu bisa membuat dia dikenang sama seluruh dunia ketika dia meninggal. Dia selalu merasa dia harus berbuat sesuatu supaya dia berarti di dalam dunia.

Sampai di suatu titik pacarnya ini marah. Lu gak bakalan bisa bikin semua orang di duni ini mengingat lu. Tapi bukannya udah cukup lu punya satu orang yang gak bakal melupakan lu dari dunianya ketika lu meninggal nanti. 

Sama seperti kata mutiara yang pernah gw baca
To the WORLD you maybe one PERSON,
but
To SOMEONE you maybe their WORLD

05 Januari 2014

Belajar dari Kelinci

Masih soal kompetisi dan bertahan kemarin itu. Hari ini khotbah dari pendeta di kebaktian menggunakan sebuah ilustrasi yang menurut gw menarik. Soal kelinci dan anjing pemburu.

Pertama-tama, muncul tokoh kelinci. Seorang ibu kelinci yang sedang mencari makan di hutan dengan kaki pincangnya untuk memberi makan anak kelinci. 

Kedua, muncul anjing pemburu dan tuannya. Ketika melihat si kelinci, Sang Majikan menyuruh anjingnya untuk memburu kelinci yang lemah tersebut. 

Kelinci itu memang bukan makanan untuk si anjing, melainkan untuk Sang Majikan. Tetapi ketika si kelinci berhasil ditangkap, maka si anjing akan mendapatkan makanan favoritnya sebagai imbalan.

Perburuan pun dimulai. Ketika si anjing berlari, si kelinci yang pincang berlari lebih lagi dan masuk ke pelosok-pelosok yang tidak dapat dijangkau oleh si anjing.

Si Anjing pun menyerah begitu saja. Kembali ke majikannya tanpa membawa apapun. Iapun tahu bahwa apabila ia tidak mendapatkan si kelinci maka ia tidak mendapatkan makanan favorit. Tetapi ia akan tetap diberi makan oleh majikannya.

Berbeda dengan si kelinci. Ketika ia dikejar oleh si anjing dia berusaha berlari sekuat-kuatnya. Meskipun kakinya pincang, ia terus berlari tanpa memedulikan rasa sakit yang ia alami. Karena apa? Karena taruhannya bukan hanya sekedar makanan favorit, tetapi soal nyawanya dan nyawa anaknya. Apabila ia mati, maka anaknya pun juga mati.

Pelajaran yang gw ambil, sama kaya hidup kita. Kalo kita cuma menganggap hidup ini soal mendapatkan makanan favorit, atau bagi gw hanya untuk sekedar memenangkan sebuah kompetisi, maka kita akan mudah menyerah dan cepat puas dengan pencapaian kita tersebut. Tetapi apabila kita mengganggap hidup ini soal pertaruhan hidup mati dan berbagi dengan orang yang kita kasihi, maka pasti kita akan memperjuangkan yang terbaik dalam hidup ini.

20 Desember 2013

Akhir yang Bahagia

Belakangan ini gw lagi suka banget sama salah satu film serial Once Upon A Time. Pertama nonton berasa bagus sih, cuma ya udah gitu aja. Terus gw diskusi sama Tania, gw bilang itu film tentang dongeng Putri Salju yang dibuat jadi nyata. Tania bilang itu film tentang Red Riding Hood. Nahloh, jadi bingung kan. Tapi pada saat itu gw gak gitu penasaran buat mencari tahu sebenernya film apaan itu.



Sampailah ada lagi serial marathon nya di TV. Ternyata ini memang kisah tentang kumpulan dongeng yang ternyata GILA BANGET! Penulis ceritanya sih superb banget. Dengan ide gilanya, dia bisa membuat semua tokoh dongeng itu saling berhubungan entah gimana caranya. Alur ceritanya juga maju mundur. Makanya begitu kelewat satu episode, langsung bego. Haha.

Ada satu hal perkataan si Putri Salju yang bagus di film ini. "Dongeng itu mengingatkan kita bahwa pasti ada akhir yang bahagia!"

Terus gw keinget sama sebuah kalimat bijak yang kurang lebih berbunyi
If it is not HAPPY, then it is not ENDING

12 Desember 2013

Ojek Payung PRIBADI

Hari ini merupakan kali kedua gw menggunakan jasa ojek payung. Pertama kali waktu SMA dulu, waktu gw dan Tania mau ke pelataran parkir di Mall Kelapa Gading. Kali kedua ini juga sama halnya, waktu gw mau keluar gedung dan menuju pelataran parkir.

Hujannya cukup lebat dan berangin. Biasanya gw paling gak peduli sama hal-hal kaya gituan, tapi kali ini kayanya hujannya gak bersahabat, ditambah jarak tempuh yang cukup bisa membuat basah kuyup. Maka, gw putuskan menyewa ojek payung.

Si anak kecil penyedia jasa ojek payung ini matanya berbinar waktu melihat gw memulai melakukan kontak mata dengan dia. Secara, lokasi dia di seberang lobby gedung, makanya gw juga bingung gimana manggil dia. Untungnya dia bisa dikontak lewat mata. Hehe.

Kalo waktu pertama ngojek payung berdua, kami fokus membagi sebuah payung berdua agar diri kami masing-masing terlindungi. Kali ini gw cuma sendiri. Terjadilah sesuatu yang aneh ketika si anak kecil ini "menyerahkan" payungnya ke gw. Gw kaya bingung waktu mau ngambil payung yang mungkin salah satu harta paling berharga buat dia pada saat tersebut. Gw kira dia bakal ikut mendampingi gw, megangin payungnya itu. Gw pun udah siap berbagi satu payung berdua dengan si anak itu. Eh, tapi ternyata dia membiarkan gw megang payung itu sendiri. Sedangkan dia dengan mengendap-endap mengikuti gw dari belakang.

Sampai di tengah perjalanan, gw musti naik tangga dan di depannya ada kaca gedung yang bisa merefleksikan bayangan di depannya. Pas gw naik, diam-diam gw melihat si anak ojek payung dari refleksi kaca gedung tersebut. Dia mengikuti gw dari belakang dengan jarak kurang lebih 1,5 meter, dengan sambil  memeras bajunya. Memang pada saat itu hujan telah berlangsung selama setengah jam. Mungkin dia sudah berkali-kali bolak-balik mengantarkan para pengguna jasa ojek payung ke tempat tujuan mereka.

Waktu sampai di tujuan, gw memberikan sejumlah uang untuk jasa ojek payungnya, dan mengembalikan payung ke tangannya. Gak lupa juga ucapan terima kasih dan senyuman getir tapi datang dari hati. Haha.

Dari si anak kecil penyedia jasa ojek payung ini gw belajar bahwa masing-masing kita pasti punya ojek payung pribadi yang bakal dengan rela hati memberikan "payung" harta berharganya demi melindungi kita, dan dengan diam-diam setia mendampingi kita dari belakang, serta rela berkorban bermandikan hujan demi kita. Tapi bedanya kalo ojek payung mengharapkan imbalan atas jasa ojek payung yang telah diberikan, sedangkan ojek payung pribadi ini cukup mendapatkan imbalan dengan keselamatan dan kehangatan yang dapat kita rasakan.

Salah satu ojek payung pribadi yang mungkin gak pernah kita sadari adalah orangtua kita sendiri. Mereka pasti dengan rela hati menyerahkan segala sesuatu yang berharga dari mereka, rela mengorbankan diri mereka yang kehujanan, tetapi tetap mau mendampingi kita kapanpun juga.

11 Desember 2013

Berkompetisi dan Bertahan

Beberapa hari belakangan ini gw jadi takut dan bingung. Entah apa yang gw kejar dalam hidup ini.
I am an OVERTHINKING person. But, I got NOTHING in my thought.

Setelah gw berbagi cerita dengan teman gw, dia memberikan pidato dari seorang lulusan di Amerika sana. Dan mirip dengan gw memang. Di pidato itu dia menyatakan protes terhadap sistem pendidikan di Amerika.
Berikut cuplikan pidatonya yang menurut gw sangat menginspirasi

 There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, "If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, "Ten years." 
The student then said, "But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast - How long then?" Replied the Master, "Well, twenty years." "But, if Ireally, really work at it, how long then?" asked the student. "Thirty years," replied the Master. "But, I do not understand," said the disappointed student. "At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?" 
Replied the Master, "When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path."
 Waktu salah satu mata lu tertuju ke tujuan akhir, maka lu cuma tinggal punya satu mata untuk melihat jalan yang harus dilalui ke sana.

But I contest that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme.
 When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I'm scared.

Cewe ini begitu pinter, dan dia berhasil lulus dengan nilai yang bagus. Tapi sekarang dia sadar bahwa dia cuma sekedar budak. Dia melihat semua pelajaran itu bukan sebuah pembelajaran tapi sebuah pencapaian. Dan sekarang ketika pencapaian dia udah "habis" atau "selesai", dia menjadi takut. Karena dia gak tau apa yang harus dikerjain lagi.

Mungkin sekarang saatnya gw belajar gak cuma berkompetisi tapi juga harus bisa bertahan di dalam hidup ini.
TO  BE A PERSON I WANT TO BE, not FORCED TO BE.


Here I Stand
Erica Goldson

June 25, 2010

18 November 2013

Euh!

Gw gak suka anak kecil. Apalagi anak bayi yang masih benyek-benyek gitu. For me, they are so fragile. Badannya masih lembek, kepalanya apalagi. Hiii.. Ketika temen-temen gw pada suka sama anak kecil, mau bermain dengan mereka. Gw justru ogah. Gw cukup liatin mereka dari kejauhan. Belom lagi kalo mereka ileran, ingusan, nangisan, dan kencing. 

Sebenernya gw kira gw biasa aja. Maksudnya, gw emang gak suka anak kecil, tapi ya udah normal-normal aja. Lagian kan itu anak orang, kalo kenapa-kenapa di tangan gw kan horor jadinya. Sampailah pada kejadian ketika gw berkunjung ke rumah sodara gw di Bandung. 

Mereka punya anak berusia 1 tahun. Bokap gw dengan senang hati menggendong-gendong. Gw lagi duduk di ruang tamu. Bokap gw lagi bediri di samping gw, terus tiba-tiba aje bokap gw mau melepaskan gendongannya dan dikasih ke gw. 

Dengan spontan dan reaktifnya gw langsung, "Gak gak gak gak! Aku gak mau gendong!" Panik banget pas mau dikasih gitu ke gw. Gw gak mau dan gak kepengen ngegendong mereka. Sebenernya bukan karena ileran, ingusan, nangisan, dan kencingan itu. Tapi lebih karena mereka benyek-benyek itu loh. Gw gak tau cara gendong yang bener. Hiii..

Gw jadi inget Robin dari serial TV How I Met Your Mother, di season 8 episode 16. Dia gak pernah mau gendong Marvin, anaknya Lily. 

Robin lebih milih numpahin minuman ke bajunya biar gak bisa gendong Marvin!


Robin menenangkan Marvin dengan cara menggoyang-goyangkan stroller nya Marvin! Haha
Such a Great Idea!


Robin SIOK pas tau Marvin di tangan dia! Yang secara tiba-tiba Lily taro begitu aja.
Kayanya gw musti "dijejelin" kaya gitu juga deh.

17 November 2013

Puncak dan Kaki Gunung

Kotbah tadi Kebaktian Pemuda-Remaja, judulnya Through It All. Sebagian kecil isi kotbahnya yang gw inget adalah, seorang lalala, namanya Paul Stoltz menyatakan ada kemampuan manusia lainnya selain IQ, EQ, dan SQ. Namanya AQ, Adversity Quotent. Menurut pengkotbahnya, itu artinya kemampuan untuk berjuang / bertahan hidup.

Dalam kemampuan AQ itu ada 3 tipe. Digambarkan kondisinya sedang mendaki gunung.
Tipe pertama : Quitter
Mereka adalah yang menyerah sebelum mulai mendaki. Mulai dari baca bahwa 3.000 meter tingginya, udah ogah duluan. Mundur teratur.
Tipe kedua: Camper
Mereka adalah yang mendaki sampai pos pertama atau kedua. Setelah itu memutuskan untuk berdiam di tempat dan cukup puas dengan menikmati puncak gunung dari tempat mereka berada.

Tipe ketiga: Climber
Mereka adalah yang mendaki sampai puncak gunung. Waktu udah sampe di puncak gunung, mereka tidak puas sampai di situ saja, melainkan mereka berpikir, " Gunung mana lagi yang harus kudaki?"

Kalo tadi bahas soal mencapai puncak gunung,
Sekarang gw mau bahas soal turun gunung.

Beberapa minggu yang lalu gw baru mulai baca salah satunya buku C.S. Lewis. Buku kristiani gitu, bukan tipe gw banget. Tapi penasaran aja sih, karena temen gw bilang itu salah satu pengarang yang bagus. Judul bukunya "Four Kind of  Love" (kalo gak salah, haha). Gw baru baca sampe bab kedua. Di situ membahas tentang kasih.

Salah satu analoginya adalah, waktu lu mau pulang kampung. Kampungnya ada di kaki gunung. Cara mencapai ke sana, lu harus mendaki gunungnya, baru turun ke desa lu itu.

Kondisinya ketika lu mencapai puncak gunung itu, lu bisa terdiam di sana, lu bisa liat SELURUH desa lu.
Lu sedang berada di titik yang terdekat dengan desa lu. Tapi lu gak berada di situ.

Lu hanya dapat menikmati dia secara visual, tidak dengan fisik lu. Tetep aja lu belom mencapai desa lu.

Intinya yang gw tanggep dari pelajaran naik dan turun gunung itu adalah
kita gak boleh sampai pada titik puas secara visual kaya tipe camper. Atau hanya puas memandangi desa dari puncak gunung kaya perumpamaannya C.S. Lewis.
Kita harus mencapai tujuan kita secara fisik, mental, dan visual.

Tapi sayangnya gw orang visual! hahaha. Emang masih banyak yang harus diubah lewat pembelajaran.
In the end, I think : Life is all about learning and acting!

SATU banding 99

Mungkin gw orang dengan pikiran ternegatif yang pernah ada di dunia. :(

Salah satu orang terdekat gw dulu, sempet menyatakan itu. Gw orang yang memfokuskan penglihatan dan pikiran gw pada 1% kemungkinan terburuk, dibanding melihat 99% sisanya yang adalah kemungkinan terbaik yang akan terjadi. Karena 1% tersebut, yang cuma satu persen, gw lupa untuk melihat 99 sisanya yang adalah kemungkinan yang baik.

Gw punya penjelasan untuk pemikiran itu. Gw lebih suka mempersiapkan hal terburuk yang terjadi, dibanding memiliki harapan yang tinggi untuk sesuatu yang baik. Karena menurut gw 1% itu bisa merusak si 99%. Ingat peribahasa "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga" ? 

Jangan sampe ada setitik nila itu menetes di susu. Gw terlalu memikirkan cara untuk menghilangkan si 1% tersebut. Sampe gw lupa, sebenernya gw masih punya 99%. Tapi buat gw, semua itu harus 100%. Kalo si 1% bisa berubah jadi 99%, maka gw baru mau melihat dia sebagai 100%.

Terlihat naif memang. Karena gak ada yang mutlak, gak ada yang absolut di duni ini. Pasti ada yang cacat. Sama kaya peribahasa "Tak ada gading yang tak retak" 

Tapi tetep susah buat gw untuk gak melihat 1% itu. Kadang dia menjadi alasan-alasan gw untuk gak bertindak di 99% sisanya. Dia menjadi penghalang buat gw.

In the end, kayanya gw tau lanjutan dari pos ini tuh apa. Haha.
Let see the next post, peeps!